Bagaimana Memenuhi Kebutuhan Sesuai Penghasilan?
Sudah tidak asing
lagi pernyataan “Aduh...gaji cuma numpang
lewat aja nih!” Secara tidak sadar mungkin kita pernah mengucapkannya atau
paling tidak mendengar seorang teman mengucapkan kalimat tersebut. Anehnya kalimat
ini sering diucapkan saat waktu gajian
belum lama berselang.
Saya sering
mendengar rekan saya mengeluh karena penghasilannya dirasa terlalu kecil
sehingga tidak cukup untuk membeli ini dan itu. Kalau sudah begitu, orang
menuding kenaikan harga sebagai biang keladi gaji yang tidak pernah cukup.
Namun kenaikan harga bukanlah satu-satunya penyebab pengeluaran lebih dari
penghasilan. Banyak orang merasa penghasilannya tidak pernah cukup, meskipun
sudah berkali-kali menerima kenaikan.
Jika berusaha mengingatnya, kemungkinan besar habis untuk beli majalah,
koran, makanan kecil, atau rokok. Belanja kecil seperti ini tanpa disadari jika
dikumpulkan jumlahnya cukup besar, jika dikalikan dengan jumlah hari dalam
setahun. Saya yakin Anda akan terpukau melihat besarnya jumlah uang yang dibelanjakan.
Belum lagi langganan
TV kabel, baju-baju yang Anda beli saat discount, gadget terbaru yang dibeli, dan sebagainya.
Rasanya semakin hari semakin sulit membedakan keinginan dan kebutuhan
disebabkan tuntutan gaya hidup yang sulit dipuaskan. Mengapa antara penghasilan
dan pengeluaran seringkali berlomba mengalahkan siapa yang paling besar?
Padahal kita tidak pernah belanja berlebihan atau sengaja menghamburkan uang.
Menurut pengamatan saya, biasanya saat penghasilan bertambah, maka kita
terdorong berbelanja lebih banyak.
Akhirnya sama saja,
berapapun kenaikan penghasilan yang diterima, dirasa tidak pernah cukup. Nah
apa yang harus kita lakukan agar seberapapun penghasilan yang kita terima bisa
mencukupi kebutuhan dan membantu kita mencapai tujuan keuangan lainnya.
Pertama, kenali
penyebab penghasilan tidak mencukupi, lakukan analisa apa saja yang membuat
penghasilan kita tidak pernah cukup:
·
Kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi. Akibatnya
dengan jumlah uang yang sama kita tidak lagi mendapatkan atau membeli barang
dan jasa sebanyak sebelumnya, sebab nilai uang menurun dengan berjalannya
waktu. Masalahnya jika penghasilan kita tetap atau jika kenaikan penghasilan
kita tidak sebesar kenaikan harga barang dan jasa, sudah pasti penghasilan
tidak cukup.
·
Menganut gaya hidup “ besar pasak dari pada
tiang”,
artinya hidup diluar kemampuan finansial. Ini
merupakan penyebab utama dari hampir seluruh masalah keuangan keluarga.
Penyebab utama defisit biasanya dipicu sifat boros sehingga membuat kita
belanja jumlahnya sering terlalu besar atau membeli barang yang sesungguhnya
tidak perlu dibeli, namun tergiur oleh sale yang dilakukan oleh toko atau
department store.
·
Hutang dengan sistem berbunga.
Tagihan kartu kredit yang dibayar minimal akan membuat tagihan kian membengkak.
Belum lagi kalau terlambat membayar, sudah pasti kena denda keterlambatan
membayar yang dikenal dengan istilah late charges. Lebih lanjut lagi kalau
kita tergiur dengan tawaran membeli barang kreditan dengan cicilan ringan atau
0% juga sering membuat kita terlena, tanpa disadari pengeluaran bulanan jadi
besar karena terlalu banyak membeli barang kreditan.
·
Pengeluaran tak terduga, misalnya
ada kerabat pinjam uang untuk keperluan ke rumah sakit, sumbangan uang perkawinan
atau hadiah ulang tahun. Walaupun sesekali tapi
karena teman atau kerabat banyak, mau tidak mau harus keluar uang yang tidak
direncanakan.
Setelah mengenali penyebabnya kita bisa
mencari obatnya. Terimalah tips berikut ini:
1.
Mulai berinvestasi
Inflasi yang terjadi tidak dapat
dihindari karena terjadi secara alami dan diluar kemauan kita. Selain membuat
defisit, inflasi juga dapat menggerogoti harta kekayaan jika tidak membuatnya
berkembang biak ke dalam produk investasi yang return-nya lebih tinggi dari
asumsi tingkat inflasi. Karena itu
miliki anggaran investasi agar hasil keuntungannya bisa menambah penghasilan
kita. Mulailah memiliki kebiasaan menabung minimal 10 % dari penghasilan dan
tingkatkan jumlahnya sejalan dengan kenaikan penghasilan dan biasakanlah
membayar tabungan dahulu sebelum membayar keperluan lainnya.
2.
Biasakan membuat anggaran belanja bulanan
Tidak peduli berapa
penghasilan kita, memiliki anggaran belanja bulanan sangat penting karena akan
membuat pengeluaran lebih terkendali. Kuncinya adalah membuat anggaran
pengeluaran lebih kecil dari penghasilan dan biasakan belanja hanya sebesar
jumlah yang sudah dianggarkan. Dengan mematuhi anggaran yang dibuat, kita bisa
tetap belanja tanpa mengalami defisit. Dengan adanya anggaran, kita dapat
memisahkan mana pos pengeluaran wajib dan mana yang tidak wajib. Karena itu
belajarlah mengelola keuangan dengan membedakan pengeluaran wajib, tidak wajib,
keinginan dan kebutuhan.
3.
Batasi cicilan hutang bulanan
Kewajiban cicilan hutang bulanan seperti
cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan barang kreditan, dan cicilan hutang kartu
kredit, jika ditotal keseluruhan, sebaiknya tidak melebihi 30% dari penghasilan
bulanan. Dengan demikian 70% sisanya dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan
hidup lainnya dan juga investasi. Semakin kecil porsi hutang (<30%), maka
semakin besar sisa penghasilan bulanan yang bisa dimasukkan ke investasi,
sehingga semakin baik pula kondisi keuangan kita.
4.
Miliki dana cadangan
Untuk mengatasi pengeluaran tak terduga,
sebaiknya tidak mengambil dari gaji rutin. Sebab memang gaji rutin memang
diperuntukkan untuk pengeluaran rutin. Sedangkan pengeluaran tidak rutin,
sebaiknya diambil dari dana cadangan/dana darurat. Dana ini bisa berbentuk
sejumlah uang yang disimpan di rekening bank, sehingga Anda bisa mengambil saat
ada keperluan mendadak. Bentuklah dana darurat minimal tiga kali pengeluaran
bulanan.
Namun jika penghasilan Anda tidak rutin
atau belum stabil, sebaiknya dana cadangan yang dibentuk lebih besar lagi,
misalnya 6 kali pengeluaran perbulan. Jika saat Anda sudah memiliki sejumlah dana sesuai
dengan kebutuhan jumlah minimal dana cadangan, maka pisahkan ke rekening tersendiri.
Jika sama sekali belum memiliki simpanan uang tunai, segeralah menyisihkan
minimal 10 % secara rutin setiap bulan dari gaji Anda.
Jika sudah tercapai sejumlah dana
cadangan yang ditargetkan, maka Andsa bisa berhenti membentuk dana cadangan dan
kegiatan setoran rutin tabungan tadi bisa dialihkan ke produk investasi yang
return-nya lebih tinggi. Jika sewaktu-waktu dana tersebut terpakai, segera isi
kembali, sampai target dana cadangannya tercapai.
Semoga Bermanfaat
bagi Anda!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar